Tampilkan postingan dengan label INDONESIA STORY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INDONESIA STORY. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 Februari 2015

REALITA DI TANAH PANCASILA


                               


                       <!-- Begin BidVertiser code -->
<SCRIPT SRC="http://bdv.bidvertiser.com/BidVertiser.dbm?pid=732616%26bid=1813212" TYPE="text/javascript"></SCRIPT>
<!-- End BidVertiser code -->          
                                                                                                                                                                                                   
ketika paradigma menatap hal yg abstrak.
tentunya imajinasi bercabang menebak Pasti atau tidak,
Benar atau salah...
sesungguhnya itu sama saja seperti Fatamorgana,,
Buram ketika dilihat dari kejauhan..
jelas ketika dilihat dari kacamata pembesar.


                                         



        

         ku ingin tertawa melihat edikasi Negaraku porak poranda.
         menelan bukti serta janji diperut buaya,
         hanya saja aku tak beranikan diri untuk membuat proposal surat kecil untuk kepala                negara,
         mungkin hasilnya nihil dan akupun terjerumus dipenjara bawah tanah..
         lebih baik aku bungkam nada suara kupun bisu seperti malam tanpa rembulan dan                  bintang nya.


-


Hei ..
mengapa kau terus memaki,
sedangkan jabatan mu menunduk menatap diriku.
dan kau para jendral..
mengapa kau tembak saja aku.
sedangkan senjata mu luluh dan layu melihat akan ku berdiri didepan berderaku.

 created  : mata najwa
 editor     : Lorong langit teukufandy.blogspot.com

Sabtu, 15 Februari 2014

Senjata Api Tercanggih Buatan Indonesia

MATA DUNIA_Inilah yang katanya senjata api tercanggih buatan indonesia Irak dan Uganda memesan senjata buatan Indonesia. Salah satu perusahaan yang akan memasok kebutuhan dua negara tersebut adalah PT Pindad. Dalam situs resmi perusahaan pelat merah tersebut, sejumlah senjata hasil pabrikannya diurai satu persatu, mulai dari pisau komando, senapan mesin, sniper, hingga senapan serbu. Berikut beberapa senjata api yang diuraikan dalam situs tersebut:


P2 dan P3 Pindad
Keunggulan unit ini adalah bentuk yang kompak, berkemampuan dan daya tahan yang tinggi. Pistol jenis ini  jadi preferensi dari berbagai kalangan pengguna. Amunisi yang digunakan adalah cal 9 x 19 mm. Pindad juga memproduksi P3 atau pistol double action yang dirancang dengan bentuk yang ergonomik dan menggunakan intercept notch dan hammer block yang memungkinkan akurasi tinggi dalam menembak.


Pindad menjamin P3 dibuat dari bahan-bahan berkualitas tinggi untuk menjamin ketepatan dan akurasi, kedua pistol tersebut dapat digunakan baik untuk single maupun double action. Dilengkapi asesoris alat bidik, red dot, laser sight dan tactical light. Tersedia 2 tipe yaitu tipe P2 dengan caliber 9 x 19 mm untuk militer dan tipe P3 dengan caliber 7,65 x 17 mm untuk penegak hukum dan perlindungan pribadi.

Senjata Jagawana
Senjata ini khusus didesain untuk kepentingan polisi hutan. Pindad membuatnya berdasarkan senjata PM1 yang disesuaikan dengan kebutuhan aparat penegak hukum di lingkungan kehutanan.

Jagawana PM1

Revolver
Revolver R1 memiliki silinder dengan kapasitas 6 peluru. Terbuat dari bahan baja paduan yang menjamin kehandalan. R1 juga dilengkapi dengan pengaman penembakan. Unit ini dapat ditembakan dengan single dan double action, serta mempunyai bentuk yang compact dan ringkas sehingga mudah bagi pengguna untuk membawanya sehari-hari. Tersedia dalam 2 tipe masing-masing dengan dengan panjang laras 2 " dan 4. " Revolver ini sesuai untuk aparat penegak hukum yang memerlukan kehandalan, ketetapan, dan kekuatan.  Ringkas, ringan, daya tahan dan ketepatan dari senjata ini menjadikannya ideal untuk digunakan untuk penegak hukum.

Revolver Pindad

SAR-2
Senapan laras licin SAR-2 digunakan untuk menembakan amunisi gas air mata maupun karet kaliber 38 mm. Pindad telah mengembangkan berbagai produk khusus penegak hukum, khususnya untuk anti huru-hara dan alat pelindung diri bagi penegak hukum, meliputi senapan laras licin SAR-1 dan SAR-2, pistol isyarat P1, adapter pelontar granat PGT, borgol, helm tongkat, tameng, dan rompi.


Shotgun Professional Magnum
Senjata penegak hukum dengan kecepatan dan ketepatan tinggi. Senjata ini memiliki bobot 2,85 kilogram.


Senapan Mesin
Jenis ini ada dua tipe, yakni SPM2-V1 Kal. 7.62 x 51 mm dan SPM2-V2 Kal. 7.62 x 51 mm.


SPM2-V1
Senapan mesin sedang SPM2-V1 dengan inovasi desain laras beratur mampu tahan hingga lebih 3575 tembakan tanpa dibersihkan. Kehandalan bahan laras EN 26 dengan proses swaging dan bagian dalam dilapisi hard chroom membuat umur pakai lebih lama dibanding senjata sejenis lainnya. Dilengkapi tripod yang mampu memutar sebaran hingga 64 dan sebaran dalam +7,5 hingga -7,5 dibuat dengan konstruksi yang ringan, mudah dioprasikan.

SPM2-V2
Senapan mesin ringan SPM2-V2 dengan inovasi desain laras beralur mampu tahan hingga lebih 3600 tembakan tanpa dibersihkan. Umur pakai unit ini pun tergolong lama dibandingkan jenis lain.


Pelontar Geranat
SPG1 dirancang khusus dengan tampilan laras lebih pendek dan sangat cocok untuk tugas tugas penyamaran. Senapan pelontar Granat SPG1 kal. 40 mm dengan daya dobrak tinggi untuk sasaran area. Rumah mekanik terbuat dari alumunium pilihan dengan proses machining menjadikan senjata ringan. Laras unit ini diproses hard anodaizing untuk menambah kekuatan umur pakai. Cara bongkar pasang yang cukup mudah.

Pelontar granat pindad

Senapan Serbu (SS1 dan SS2)
SS1 adalah senapan serbu kaliber 5,56 x 45 mm yang memiliki akurasi tinggi dan handal dengan menggunakan popor lipat sehingga fleksibel untuk digunakan sesuai kebutuhan di segala medan. Senjata ini dapat dilengkapi dengan berbagai aksesoris, antara lain silencer, telescope, sangkur, berbagai tipe pelontar granat, dan lain-lain. Senapan ini juga telah dikembangkan menjadi berbagai tipe sesuai dengan medan operasi, yaitu tipe standar, marinized, dan raider, baik untuk laras panjang, karaben maupun laras pendek.

Senapan serbu Pindad

Tipe Marinized dikembangkan khusus untuk marine condition dan swap condition, sedangkan tipe raider dikembangkan untuk medan tempur khusus. Pindad juga mengembangkan generasi terbaru dari senapan serbu dengan nama SS2. Kaliber peluru unit ini sama dengan pendahulunya, 5,56 x 45 mm dengan laras kisar 7".


Ringan, handal, dan memiliki akurasi tinggi, dengan menggunakan popor lipat sehingga fleksibel untuk digunakan sesuai kebutuhan. Senjata ini dapat menggunakan mechanical maupun optical sight. Senapan ini juga telah dikembangkan menjadi berbagai tipe laras panjang dan laras pendek, baik dengan menggunakan mechanical maupun optical sight, sesuai dengan kebutuhan operasi

teukufandy.bogspot.com





Jumat, 14 Februari 2014

Arogansi sang Ustadz... ini pengakuan entis


Entis Sutisna alias Kang Entis mengaku tak tahu apa kesalahan yang diperbuatnya kepada ‘Ustad’ Hariri sehingga membuat ‘Ustad’ selebritis itu murka. Entis yang berprofesi sebagai soundman pun meminta maaf kepada ‘Ustad’ Hariri karena ia mengaku dipaksa untuk meminta maaf.

Hal itu diungkap Entis dalam tayangan live Hitam Putih, Kamis (13/2/2014). Selain Entis, acara yang dipandu Deddy Corbuzier itu juga menghadirkan ‘Ustad’ Hariri.

"Saya nggak tahu salah saya apa. Saya meminta maaf ya karena saya dipaksa meminta maaf sama Bapak (Ustad Hariri). Saya takut karena saya orang kecil, saya di situ cuma bekerja," kata Entis, yang disambut tepuk tangan penonton yang hadir di studio.

Entis juga menjelaskan, ia memang menjawab dengan nada keras ketika ‘Ustad’ Hariri meminta suara microphone-nya ditinggikan. Tapi Entis membantah kalau ia menjawab dengan suara tinggi dan menantang.

"Saya kan jaraknya 20 meter dari Bapak, nggak kayak di sini (studio), di sini mah dekat. Saya takut nggak kedengaran sama Bapak," jelas Entis.

Mendengar penjelasan Entis, ‘Ustad’ Hariri pun mengaku kalau ia salah dan sudah salah sangka dengan Entis.

"Kalau Kang Entis nggak merasa salah, nggak apa-apa. Begini saja saya minta maaf, kepada Kang Entis dan ke semua yang sudah melihat video itu," kata ‘Ustad’ Hariri.

"Di sini juga klarifikasi kalau Kang Entis nggak menantang. Karena saya berangggapan saat itu Kang Entis Nantang," ujar ‘Ustad’ Hariri.

Permasalahan ‘Ustad’ Hariri dan Entis Sutisna berdasarkan video berjudul ‘Ustad’ Hariri Ngamuk yang tengah heboh di YouTube.

Video itu memperlihatkan adegan ‘Ustad’ Hariri memarahi Entis (pria berjaket hitam). Saking emosinya, ‘Ustad’ Hariri sampai menekan kepala Entis dengan menggunakan dengkulnya. 




teukufandy.blogspot.com

Selasa, 21 Januari 2014

SUKARNO VS SUHARTO


Saat itu medio Juni 1970. Seseorang sedang menangis sesenggukan. ” Pak Karno sudah ” ( meninggal). Dengan menumpang kendaraan militer mereka bisa sampai di Wisma Yaso. Suasana sungguh sepi. Tidak ada penjagaan darikesatuan lain kecuali 3 truk berisi prajurit Marinir ( dulu KKO ). Saat itu memang Angkatan Laut, khususnya KKO sangat loyal terhadap Bung Karno. Jenderal KKO Hartono – Panglima KKO – pernah berkata , ” Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO. Merah kata Bung Karno, merah kata KKO “.


Banyak prediksi memperkirakan seandainya saja Bung Karno menolak untuk turun, dia dengan mudah akan melibas Mahasiswa dan Pasukan Jendral Soeharto, karena dia masih didukung oleh KKO, Angkatan Udara, beberapa divisi Angkatan Darat seperti Brawijaya dan terutama Siliwangi dengan panglimanya May. Jend Ibrahim Ajie.

Namun Bung Karno terlalu cinta terhadap negara ini. Sedikitpun ia tidak mau memilih opsi pertumpahan darah sebuah bangsa yang telah dipersatukan dengan susah payah. Ia memilih sukarela turun, dan membiarkan dirinya menjadi tumbal sejarah.


The winner takes it all. Begitulah sang pemenang tak akan sedikitpun menyisakan ruang bagi mereka yang kalah. Soekarno harus meninggalkan istana pindah ke istana Bogor . Tak berapa lama datang surat dari Panglima Kodam Jaya – Mayjend Amir Mahmud – disampaikan jam 8 pagi yang meminta bahwa Istana Bogor harus sudah dikosongkan jam 11 siang.

Buru buru Bu Hartini, istri Bung Karno mengumpulkan pakaian dan barang barang yang dibutuhkan serta membungkusnya dengan kain sprei. Barang barang lain semuanya ditinggalkan. ” Het is niet meer mijn huis ” – sudahlah, ini bukan rumah saya lagi , demikian Bung Karno menenangkan istrinya. Sejarah kemudian mencatat, Soekarno pindah ke Istana Batu Tulis sebelum akhirnya dimasukan kedalam karantina di Wisma Yaso. Beberapa panglima dan loyalis dipenjara. Jendral Ibrahim Adjie diasingkan menjadi dubes di London. Jendral KKO Hartono secara misterius mati terbunuh di rumahnya.

Kembali ke kesaksian yang diceritakan ibu saya. Saat itu belum banyak yang datang, termasuk keluarga Bung Karno sendiri. Tak tahu apa mereka masih di RSPAD sebelumnya. Jenasah dibawa ke Wisma Yaso. Di ruangan kamar yang suram, terbaring sang proklamator yang separuh hidupnya dihabiskan di penjara dan pembuangan kolonial Belanda. Terbujur dan mengenaskan. Hanya ada Bung Hatta! dan Ali Sadikin – Gubernur Jakarta – yang juga berasal dari KKO Marinir.

Bung Karno meninggal masih mengenakan sarung lurik warna merah serta baju hem coklat. Wajahnya bengkak-bengkak dan rambutnya sudah botak. Kita tidak membayangkan kamar yang bersih, dingin berAC dan penuh dengan alat alat medis disebelah tempat tidurnya. Yang ada hanya termos dengan gelas kotor, serta sesisir buah pisang yang sudah hitam dipenuhi jentik jentik seperti nyamuk. Kamar itu agak luas, dan jendelanya blong tidak ada gordennya. Dari dalam bisa terlihat halaman belakang yang ditumbuhi rumput alang alang setinggi dada manusia!

Setelah itu Bung Karno diangkat. Tubuhnya dipindahkan ke atas karpet di lantai di ruang tengahIbu dan Bapak saya serta beberapa orang disana sungkem kepada jenasah, sebelum akhirnya Guntur Soekarnoputra datang, dan juga orang orang lain.

Namun Pemerintah orde baru juga kebingungan kemana hendak dimakamkan jenasah proklamator. Walau dalam Bung Karno berkeingan agar kelak dimakamkan di Istana Batu Tulis,Bogor. Pihak militer tetap tak mau mengambil resiko makam seorang Soekarno yang berdekatan dengan ibu kota . Maka dipilih Blitar, kota kelahirannya sebagai peristirahatan terakhir. Tentu saja Presiden Soeharto tidak menghadiri pemakaman ini.

Dalam catatan Kolonel Saelan, bekas wakil komandan Cakrabirawa, ” Bung Karno diinterogasi oleh Tim Pemeriksa Pusat di Wisma Yaso. Pemeriksaan dilakukan dengan cara cara yang amat kasar, dengan memukul mukul meja dan memaksakan jawaban”.
“Akibat perlakuan kasar terhadap Bung Karno, penyakitnya makin parah karena memang tidak mendapatkan pengobatan yang seharusnya diberikan. ” ( Dari Revolusi 1945 sampai Kudeta 1966)

Dr. Kartono Mohamad yang pernah mempelajari catatan tiga perawat Bung Karno sejak 7 februari 1969 sampai 9 Juni 1970 serta mewancarai dokter Bung Karno berkesimpulan telah terjadi penelantaran. Obat yang diberikan hanya vitamin B, B12 dan duvadillan untuk mengatasi penyempitan darah. Padahal penyakitnya gangguan fungsi ginjal. Obat yang lebih baik dan mesin cuci darah tidak diberikan.
 ( Kompas 11 Mei 2006 )

Rachmawati Soekarnoputri, menjelaskan lebih lanjut, ” Bung Karno justru dirawat oleh dokter hewan saat di Istana Batutulis. Salah satu perawatnya juga bukan perawat. Tetapi dari Kowad”
( Kompas 13 Januari 2008 )

Dr. Kartono Mohamad yang pernah mempelajari catatan tiga perawat Bung Karno sejak 7 februari 1969 sampai 9 Juni 1970 serta mewancarai dokter Bung Karno berkesimpulan telahterjadi penelantaran. Obat yang diberikan hanya vitamin B, B12 dan duvadillan untuk mengatasi penyempitan darah. Padahal penyakitnya gangguan fungsi ginjal. Obat yang lebih baik dan mesin cuci darah tidak diberikan.
( Kompas 11 Mei 2006 )

Rachmawati Soekarnoputri, menjelaskan lebih lanjut, ” Bung Karno justru dirawat oleh dokter hewan saat di Istana Batutulis. Salah satu perawatnya juga bukan perawat. Tetapi dari Kowad”
( Kompas 13 Januari 2008)



Sangat berbeda dengan dengan perlakuan terhadap mantan Presiden Soeharto, yang setiap hari tersedia dokter dokter dan peralatan canggih untuk memperpanjang hidupnya, dan masih didampingi tim pembela yang dengan sangat gigih membela kejahatan yang dituduhkan.Sekalipun Soeharto tidak pernah datang berhadapan dengan pemeriksanya, dan ketika tim kejaksaan harus datang ke rumahnya di Cendana. Mereka harus menyesuaikan dengan jadwal tidur siang sang Presiden!




Malam semakin panas. Tiba tiba saja udara dalam dada semakin bertambah sesak. Saya membayangkan sebuah bangsa yang menjadi kerdil dan munafik. Apakah jejak sejarah tak pernah mengajarkan kejujuran ketika justru manusia merasa bisa meniupkan roh roh kebenaran? Kisah tragis ini tidak banyak diketahui orang. Kesaksian tidak pernah menjadi hakiki karena selalu ada tabir tabir di sekelilingnya yang diam membisu.Selalu saja ada korban dari mereka yang mempertentangkan benar atau salah.Butuh waktu bagi bangsa ini untuk menjadi arif.Kesadaran adalah Matahari Kesabaran adalah Bumi Keberanian menjadi cakrawala Keterbukaan adalah pelaksanaan kata kata***

Kepala Ayah Dipenggal di Depan Mataku


MENGENANG TRAGEDI 65
Sejarah kelam bangsa kita, dikutip dari webside http://umarsaid.free.fr
maksud kami tidak untuk membangkitkan kebencian toko-tokoh bangsa kita dizaman dulu, namun tidak salahnya kita sama-sama mengenang mimpi buruk di masa lalu yang pernah kita alami bersama.


Kisah yang disajikan oleh Sadewa di bawah ini adalah salah satu saja di antara beberapa ratusan ribu (bahkan, mungkin jutaan !) kisah nyata tentang berbagai kejadian yang menyedihkan atau mengharukan sekitar peristiwa 65. Sebenarnya, kisah yang kurang lebih sejenis atau serupa masih banyak sekali yang bisa ditemukan di seluruh Indonesia. Sejak Suharto turun dari kedudukannya sebagai presiden dan pimpinan tertinggi Orde Baru, sedikit demi sedikit mulai muncul terbuka kisah-kisah tentang kejadian-kejadian di sekitar peristiwa 65 ini.
Tetapi, masih banyak sekali kisah-kisah tentang peristiwa 65 yang terpendam atau tersembunyi sampai sekarang. Padahal, munculnya kisah-kisah nyata itu sehingga diketahui oleh orang banyak adalah mutlak penting sekali, untuk menunjukkan watak sebenarnya atau sifat jahat Suharto beserta para pembangun Orde Baru lainnya. Mengangkat atau menyebarluaskan kisah-kisah nyata tentang kejahatan Orde Baru adalah bagian yang penting dari usaha untuk menjadikannya sebagai pendidikan bangsa.
Peristiwa 65 adalah gudang besar sejarah yang berisi berbagai kisah nyata tentang kebiadaban dan kekejaman yang mengerikan, menyedihkan, menakutkan, (atau juga memuakkan !) yang pernah dilakukan oleh Suharto dkk beserta pendukung-pendukungnya terhadap sejumlah besar sekali golongan kiri dan simpatisan-simpatisan Bung Karno. Sampai sekarang, masih terdapat banyak orang, dimana-mana, yang bisa menceritakan dengan sejelas-jelasnya dan sejujur-jujurnya pengalaman mereka ini.
Sebagai contoh, wawancara singkat Sumarsono (nama samaran) kepada Sadewa seperti yang ditulis di bawah ini merupakan bukti kuat tentang betapa sewenang-wenangnya serta betapa kejamnya aparat (baca : Angkatan Darat) waktu itu terhadap orang-orang yang dianggap kiri atau pengikut PKI. Dan seperti yang diketahui oleh banyak orang, kejadian semacam yang dialami ayah dan ibu Sumarsono di Pekalongan ini juga terjadi di banyak sekali daerah di seluruh Indonesia. Dari Aceh, Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, sampai Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Kalimantan, Sulawesi dan tempat-tempat lainnya.
Jadi, sekarang ini masih banyak sekali saksi hidup dari kalangan eks-tapol dan para korban 65 beserta sanak saudaranya yang bisa menceritakan kembali apa yang sudah terjadi dengan sebenarnya sekitar peristiwa 65 itu. Sebagian kecil sekali di antara mereka sudah ada yang mau, dan sudah berani, berbicara tentang perlakuan sewenang-wenang dan tidak bermanusiawi yang mereka alami. Tetapi sebagian terbesar dari mereka masih belum bisa melakukannya, oleh karena berbagai faktor atau sebab.
Padahal, terungkapnya sebanyak-banyaknya berbagai kisah nyata tentang peristiwa 65 itu adalah penting – dan berguna sekali !!! - bagi kehidupan bangsa dan generasi selanjutnya. Perbuatan kejam secara besar-besaran – dan biadab - yang dilakukan terhadap jutaan orang tidak bersalah apa-apa itu adalah aib bangsa kita, dan merupakan pelajaran berharga , yang tidak boleh terulang lagi di kemudian hari.Untuk tidak mengulangi lagi, perlulah kiranya diketahui dengan baik dan jelas apa-apa saja dari kebiadaban yang sudah terjadi.
Dari segi ini kelihatanlah bahwa pengungkapan kisah-kisah mengenai peristiwa 65 adalah tindakan yang mempunyai tujuan luhur bagi kehidupan bangsa, dalam rangka usaha bersama untuk benar-benar menjunjung tinggi-tinggi Pancasila (Pancasila menurut jiwa aslinya, yaitu jiwa Bung Karno, dan bukannya menurut “Pancasila” palsu yang selama lebih dari 32 tahun dikoar-koarkan secara munafik oleh Suharto beserta para pendukungnya).
Menyebarluaskan segala tindakan biadab dan tidak manusiawi oleh Suharto beserta para pendukung setia Orde Baru - dan mengutuknya - adalah perlu sekali dalam usaha untuk membersihkan bangsa kita dari penyakit jiwa yang parah atau iman yang sesat, yang bisa menyebabkan terjadinya kebiadaban-kebiadaban luar biasa di sekitar peristiwa 65 dan sesudahnya. Bangsa kita tidak bisa atau tidak pantas digolongkan sebagai bangsa terhormat selama masih mendiamkan (bahkan menyembunyikan) berbagai kekejaman yang berkaitan dengan peristiwa 65.



A. Umar Said

Berikut adalah wawancara Sadewa (alamat E-mailnya : sadewa48@centrin.net.id) dengan saksi hidup Sumarsono (nama samaran) yang berasal dari daerah Pekalongan

* * *

(Ringkasan transkrip wawancara dengan Sumarsono pada 4 Maret 2001 di Jakarta. Atas permintaan narasumber, semua nama orang diganti tetapi tiga huruf pertama tetap asli. Nama tempat semuanya asli.)
Aku lupa kapan presisnya. Tapi kira-kira dekat dengan akhir tahun 1965. Malam itu sebuah truk warna abu-abu gelap berhenti di rumah orangtuaku, Sukartono, yang tinggal di desa Kesesi tak jauh dari kota Kawedanan Kajen Kabupaten Pekalongan Jawa Tengah. Sebenarnya itu bukan rumah orangtuaku. Ayah, ibu dan aku (anak tunggal) mengungsi di rumah itu dari desa Sebedug. Desa ini terletak dekat jalan pertigaan. Kalau ke Utara sampai Wiradesa, kalau ke Timur sampai Kecamatan Karanganyar dan kalau ke Selatan sampai kota Kawedanan Kajen.
Kami mengungsi ke rumah saudara ayahku di Kesesi karena merasa tidak aman, sebab sejak pecah peristiwa 30 September 1965 itu, banyak anggota BTI (atau dituduh BTI) ditangkapi dan ditahan. Ada juga yang dari desa Sangangjaya, Watubelah, Tambor, Kemploko dan lain-lain.
Malam itu, kami bertiga dinaikkan ke atas truk di mana sudah banyak orang lain di atasnya. Beberapa di antaranya saling kenal dengan ayah ibuku. Truk itu menuju ke kantor Kepolisian Kajen. Beberapa hari kami ditahan di tempat itu yang letaknya tak jauh dari sebuah sungai.
Selanjutnya kami bertiga kembali dinaikkan truk menuju ke Pekalongan. Seperti yang pertama, di atas truk sudah ada beberapa orang dengan tangan terikat. Sebelum masuk kota Pekalongan truk menuju ke arah timur, dan setelah sampai di luar kota membelok ke kiri menuju ke utara, lalu menyusuri jalan kecil ke timur. Semua penumpang diam membisu. Di atas truk ada "aparat" yang tak kuketahui jelas, polisi atau tentara, bercelana loreng tapi bajunya hitam sipil dan pakai ikat kepala merah.
Setelah menempuh perjalanan cukup jauh di tempat sepi itu, si “aparat” berteriak pada sopir sambil memukul-mukul atap truk. "Ini sudah sampai Gamer. Ya, ini Gamer. Coba cari jalan ke utara arah pantai biar urusannya gampang, ha, ha!"
Tentu saja aku tak tahu apa maksud kata-kata itu. Rupanya Gamer nama desa yang terletak antara kota Pekalongan dan Batang, menyusuri daerah pantai. Sepi, gelap, tapi sayup-sayup aku mendengar suara debur ombak. Rupanya truk sudah mendekati pantai.
Truk berhenti, tapi hanya kami bertiga yang diturunkan. Yang lain dibiarkan di atas truk. Pak "aparat" ikut turun. Ada satu "aparat" lagi turun dari samping sopir. Dia membawa benda panjang yang dibungkus kain hitam. Di atas truk masih ada tiga "aparat" lagi yang semua memakai pakaian polisi dan tidak ikut turun. Mereka membawa senjata api. Kami digiring terus ke utara, dan suara debur ombak semakin terdengar nyata.

Kami disuruh berhenti. "Ayo jongkok" perintah Pak "aparat" yang membawa benda panjang dibungkus kain hitam itu. Kami bertiga jongkok. Tapi ayahku diseret untuk jongkok agak terpisah.
"Kamu Sukartono sudah lama dicari-cari. Malam ini kamu harus mati" kata Pak "aparat" dengan kasar. Dia membuka kain yang membungkus benda panjang itu dan aku tahu ternyata benda itu sebuah golok atau pedang. Jantungku berdebar kencang dan ternyata aku terkencing-kencing di celana. Ketika itu usiaku baru 13 tahunan karena baru lulus SD. Aku sadar, ayahku akan dibunuh.
"Hei, lihat sana!" Bentak Pak "aparat" satunya lagi memaksa ibuku dan aku memandangi ayahku yang sedang berjongkok menunggu maut. Ibuku menutupi wajah dengan tangannya, tapi langsung ditendang. Golok itu berkelebat. Dan ibuku jatuh menindih tubuhku yang ikut roboh. Aku masih sempat melihat bagaimana kepala ayahku lepas dari lehernya. Sementara ibuku pingsan.
Peristiwa itu hanya berlangsung beberapa menit dan aku diseret dipaksa berjalan kembali ke atas truk. Tapi aku tak melihat ibuku lagi. Aku ditendang naik ke atas truk. Orang-orang yang tadi di atas truk masih utuh tak ada yang berkurang. Tapi kedua Pak "aparat" tidak ikut naik. Mataku mencari sosok ibuku di kegelapan malam namun tak terlihat. Apakah ikut dipenggal? Lalu di mana kedua mayat orangtuaku? Aku ingat kata-kata Pak "aparat" ketika mengajak si sopir truk mendekati pantai "biar gampang urusannya". Apakah artinya ayahku (dan mungkin juga ibuku) dibuang ke laut sesudah dibunuh agar tanpa repot-repot menguburkan dan meninggalkan bekas?
Aku tak bisa berpikir. Truk berbelok ke arah Barat dan memasuki kota Pekalongan, berhenti di depan sebuah penjara yang terletak berseberangan dengan kali. Tengah malam itu semua penumpang disuruh turun dari truk, langsung digiring masuk ke penjara yang kemudian kuketahui namana Penjara Loji.

* * *

Mungkin ada duabelas tahunan aku menghuni penjara itu dan aku tetap tak mendapat berita di mana gerangan ibuku, yang bernama Sumiarti, kalau masih hidup, sampai saatnya aku dibebaskan. Yang aneh, di penjara itu namaku "disulap" menjadi Sutrisno, anggota Pemuda Rakjat pelarian dari Kediri. Itulah identitas yang harus kuakui setiap kali ada pemeriksaan. Padahal namaku Sumarsono. Aku tahu apa yang disebut Pemuda Rakyat tapi jelas aku tidak pernah menjadi anggotanya karena ketika masuk pejara itu aku baru menginjak usia 13 tahunan. Kediri adalah nama kota di Jawa Timur yang hanya kukenal dalam pelajaran sekolah. Tapi itulah yang harus kuakui sebagai "kota kelahiranku".
Karena "pelarian dari Kediri", maka saat pembebasan aku digabungkan dengan para tahanan yang akan dipulangkan ke Semarang. Mereka kelihatan gembira akan kembali ke kampung halamannya. Kecuali aku yang justru bingung. Dalam perjalanan salah seorang teman berbisik: "Kalau kau memang bukan asal Kediri, nanti ikut turun saja di Semarang, kita coba bertani di kampungku. Aku orang Boja".
Ringkas kata, aku mengikuti ajakannya. Mungkin ada empat tahunan aku di Boja, untuk kemudian kami berdua sepakat untuk sama-sama mengadu nasib ke Jakarta sebagai kuli bangunan. Semula kami tetap berdua tinggal di bedeng, sampai bisa mengontrak kamar dan setelah cukup mapan kami berpisahan untuk membangun rumahtangga sendiri.
Kini kami berkeluarga dengan tiga anak. Usiaku (2001) 49 tahunan, tapi aku tak putus harapan, kiranya pada suatu saat masih bisa bertemu dengan ibuku, Sumiarti yang tentunya sudah berusia lebih dari 75 tahunan dengan ciri-ciri ada bekas luka di kaki kanannya.


Pewawancara: Sadewa48

HOT TOPIK